CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Juli 16, 2009

Balasan yang Setimpal

Wail berhasil lulus mengikuti ujian SMA. Kedua orangtuanya sangat bergembira, melebihi kegembiraan Wail. Dia adalah anak tunggal yang menjadi tumpuan hidup keduanya. Cita-cita Wail adalah dapat melanjutkan kuliah pada fakultas kedokteran di Paris. Orang tua Wail menyetujui rencananya dan mulai bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita anak tunggalnya.

Wail berangkat ke Paris, menuju Universitas Sorbonne untuk kuliah di Fakultas Kedokteran. Ayahnya yang berprofesi sebagai pedagang, setiap bulan selalu mengirim uang untuk memenuhi kebutuhannya. Wail mengontrak sebuah rumah mungil yang berdekatan dengan kampus milik seorang warga pribumi (Perancis). Tidak berapa lama Wail berhasil menjalin hubungan cinta dengan gadis cantik, anak pemilik rumah. Tali cinta keduanya semakin kuat sehingga sang gadis dapat keluar masuk ke rumah kontrakan Wail dengan bebas dan kapan saja. Setanlah yang menjadi pihak ketiganya, yang senantiasa menyulut dan mengobarkan api asmara antar keduanya. Wail pun seringkali memberi hadiah pada kekasihnya. Sementara orang tua Wail bekerja siang malam untuk dapat memenuhi kebutuhan anak tunggalnya. Akan tetapi, uang kiriman ayahnya digunakan untuk berfoya-foya dengan kekasihnya. Wail sibuk bercinta dengan kekasihnya, belajarnya menjadi terkesampingkan. Sudah bertahun-tahun orang tuanya tidak pernah terlambat dalam mengirim uang, dan ibunya selalu berpesan agar Wail tidak melupakan kedua orang tuanya sebab ia adalah anak tunggalnya. Kedua orang tuanya lalai memberikan pengarahan dan lupa tidak memantau pergaulan anak semata wayangnya.

Pada suatu hari kekasihnya datang ke kontrakan Wail sambil menangis. Wail merasa iba, lalu memeluk dan merangkulnya untuk menghiburnya. Setelah berhenti menangis, Wail menanyakan sebab ia menangis. Kekasihnya menjawab,"Orang tuaku mengusirku karena aku telah cukup dewasa, maka aku harus mampu memenuhi kebutuhanku sendiri, orang tuaku sudah tidak bersedia menghidupiku."

Tanpa basa-basi, Wail menawarkan pernikahan kepada kekasihnya, iapun tidak menolak sedikit pun karena tidak mau kehilangan kesempatan emas. Kini keduanya telah menikah dan Wail yang bertanggung jawab mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Kemudian, Wail meminta ayahnya agar mengirim uang dalam jumlah yang lebih banyak karena harga barang-barang melonjak tinggi. Ayahnya segera mengirim uang kepada Wail. Bahkan, ibunya meminta agar ayahnya tidak pelit mengirim uang untuk kebutuhan anaknya sehingga ayahnya mengirim seluruh uang yang dimilikinya tanpa menyisakan sedikit pun. Setelah itu ayahnya bingung, dari mana ia akan mengirim uang untuk anaknya. Ibunya tanpa pikir panjang langsung menjual perhiasan yang dimilikinya demi masa depan anaknya. Sementara Wail terus merongrong orang tuanya tanpa merasakan penderita¬an yang dialami kedua orang tuanya. Yang ia ketahui hanyalah meminta orang tuanya untuk mengirim uang, lalu dihamburkan bersama istri tercintanya.

Semakin hari, kondisi ekonomi orang tua Wail semakin parah, tidak memiliki sumber penghasilan lagi. Masa belajar Wail pun belum selesai juga. Kini keduanya hanya mampu menunggu kelulusan Wail dengan penuh kesabaran dengan harapan kelak anaknya dapat membalas jerih-payah orang tuanya yang selama ini dicurahkan untuk Wail sehingga akan hidup berbahagia. Sang ibu senantiasa membesarkan hati suaminya dan memberikan harapan bahwa kelak keduanya akan hidup dalam kecukupan dan kebahagiaan setelah kepulangan Wail kelak!! Tentu anaknya akan membalas jerih-payah orang tuanya dengan yang lebih baik.

Akan tetapi, Wail meminta kiriman uang lagi, bahkan lebih banyak. Orang tuanya sudah tidak mampu mengirim sepeser pun, kecuali dengan cara menjual rumah satu-satunya. Lalu keduanya mengirimkan uang untuk Wail, dan menyisakan sedikit untuk mengontrak sebuah rumah kecil dan sangat sederhana dengan harapan sekembalinya Wail kelak akan membelikan rumah megah untuk kebahagiaan keduanya!! Anak yang terbiasa hidup dengan foya-foya selalu akan membelanjakan uang tanpa perhitungan. Kondisi orang tuanya semakin memprihatinkan, dan sudah tidak mampu lagi mengirim uang. Kemudian, orang tua Wail menulis sepucuk surat yang berisi bahwa keduanya sudah tidak memiliki kekayaan apa pun, bahkan rumah dan perhiasan milik ibunya telah dijual sehingga Wail diminta supaya hidup mandiri dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri karena keduanya tidak dapat diandalkan lagi.

Wail marah, tidak mempercayai isi surat yang dikirim ayah¬nya, dia berprasangka buruk kepada kedua orang tuanya. Dalam kondisi seperti ini setan menjadi cerdik, merasukkan was-was ke dalam diri Wail, yakni orang tuanya tega menghancurkan masa depan anak tunggalnya. Hati Wail menjadi keras dan membatu, dia memutuskan hubungan dengan kedua orang tuanya karena sibuk bekerja untuk membiayai kuliahnya. Setelah berhasil menye¬lesaikan kuliahnya, ia tetap bekerja agar dapat mengumpulkan sejumlah uang sehingga ketika pulang ke negaranya dapat mem¬buka praktek. Ia bersungguh-sungguh untuk mewujudkan ke¬inginannya. Lalu memutuskan untuk pulang ke negaranya beserta istrinya tanpa memberitahu seorang pun, termasuk kedua orang tuanya!!

Wail hidup bersama istrinya yang berkebangsaan Perancis, dan menjadi seorang dokter yang kaya. Walaupun demikian, tidak mempunyai keinginan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Hatinya telah keras membatu, penuh rasa dendam terhadap kedua orang tuanya yang sejatinya merekalah yang menjadikan Wail hidup bahagia dan berkecukupan. Allah menguji Wail dengan perlahan-lahan dan tidak pernah akan lalai. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah akan lupa terhadap hamba-Nya. Dengan izin Allah ada seorang lelaki yang datang ke klinik Wail untuk periksa. Lelaki itu adalah teman dekat ayah Wail, yang tidak di¬kenal oleh Wail. Begitu pasien ini keluar dari tempat praktek Wail, dia langsung menuju rumah ayah Wail untuk memberitahu bahwa anaknya telah pulang dari Perancis dan membuka praktek. Ayah Wail terperanjat saat mendengar kabar tersebut, bahkan sempat tidak mempercayainya. Lalu kawan dekatnya bersumpah bahwa apa yang dikatakannya adalah benar, dia berkata, "Kalau kamu tidak percaya, mari sekarang aku antar ke tempat praktek¬nya!"

Ayah Wail pergi bersama kawannya dengan penuh ke¬heranan, tidak habis pikir. Begitu kedua mata ayahnya menatap papan praktek, dia membaca nama anaknya terpampang di papan tersebut dan mencium bau jantung hatinya. Kemudian, kedua matanya mengalirkan air mata kebahagiaan dan keharuan. Keduanya menaiki tangga sementara ayah Wail masih saja tidak bisa mempercayai apa yang dilihat matanya. Sekarang, ayah Wail dapat bertemu dengan anak tunggalnya setelah sekian lama meng¬hilang, ia ingin memeluknya untuk memadamkan api kerinduan. Namun, begitu sang ayah mendekati anaknya, anak yang durhaka itu sudah berteriak, "Di situ saja, jangan mendekatiku agar istriku yang berkebangsaan Perancis tidak menghinaku sehingga jatuh harga diriku!!" Ayah Wail diam terpaku. Wail yang durhaka melanjutkan bicara, "Dengarkan, aku akan memberimu bantuan sejumlah uang, tapi ingat, segera pergi dari sini dan aku tidak ingin melihatmu lagi!!"

Di sinilah ayah Wail sangat kecewa dengan harapannya selama ini, musnahlah semua angan-angannya. Tiba-tiba ia ingin mengatakan satu kalimat untuk Wail, yang jika gunung yang kokoh mendengarnya tentu akan roboh seketika dan beterbangan debunya. Ayahnya bersumpah, "Semoga Allah dan seluruh ma¬nusia melaknatmu dan murka kepadamu sampai datangnya Hari Kiamat, serta sengsara selama-lamanya!" Kemudian, meludahi wajah Wail sehingga dengan itu berhenti marahnya. Kemudian, sang ayah melanjutkan kata-katanya, "Semoga Allah, Tuhan semesta alam memberi kami kecukupan tanpa bantuanmu."

Ayah Wail pulang ke rumah, lalu menemui istrinya diliputi rasa sedih dan kecewa yang merobek-robek hatinya. Kemudian, menceritakan kabar duka itu kepada istrinya. Ia pun berduka dan menangis lama. Segala sesuatu pasti ada akhirnya, terutama setelah ayah Wail menyumpahi anaknya yang keluar dari relung hati yang penuh duka.

Akan tetapi, anak yang durhaka itu tidak terpengaruh sedikit pun dengan sumpah orang tuanya sebab hatinya telah keras membatu, hitam pekat. Bahkan, lebih pekat dari gelapnya malam.

Pada hari libur, Wail dan istrinya pergi ke luar kota untuk jalan-jalan menghilangkan kelelahan setelah sekian lama bekerja. Namun, di salah satu tikungan jalan, mobil yang dikendarainya tergelincir dan jatuh di kedalaman sungai. Wail dan istrinya mati seketika. Berita musibah tersebut di dengar kedua orang tuanya. Lalu kedua orang tuanya menjadi yakin bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa orang yang teraniaya. Nah, bagaimana kemu¬dian nasib kedua orang tuanya? Merekalah yang mendapatkan harta warisan berikut tempat praktek anaknya.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Melihat. Dia memberi kebebasan orang zalim untuk berbuat semaunya sehingga jika Allah telah berkenan mencabut dan menyiksanya, tidak ada sedikit pun yang terlewatkan. Dalam kisah ini terdapat pelajaran yang dapat dipetik untuk segenap anak dan para orang tua. Anak-anak wajib berbakti kepada orang tua dan menjaga perasa¬annya. Adapun orang tua berkewajiban mendidik anaknya dengan pendidikan yang islami dan benar. Orang tua harus menjauhkannya dari tipu daya dunia serta perangkap-perangkap setan, terutama sekarang ini, di era globalisasi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang Ibu-bapaknya. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Kulah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. " (Al-Alkabut: 8)

0 comentar: